Semangat Senyum Syukur | Everything in this world are good for us |

Jumat, 20 Oktober 2017

Fenomena Driver Ojek Online di Indonesia

Fenomena Driver Ojek Online di Indonesia

Saya tersentuh melihat perjuangan para pengendara ojek online yang terus mencari penumpang ke mana-mana. Saya meyakini bahwa kebanyakan dari mereka adalah kepala keluarga yang menganggung nafkah keluarganya dari orang tua, istri, dan anaknya. Jika kita lihat, driver hanya mendapatkan hasil atas jerihnya dengan prosentasi sekitar 80:20. 80 untuk driver dan sisanya untuk perusahaan. Jika kita telusuri kembali, berdasarkan data dari news http://viva.co.id  rata-rata driver bisa membawa pulang uang sebesar Rp. 200ribu. Driver tentu akan bisa membawa uang lebih jika mereka berhasil mencapai target harian dan diberikan komisi tambahan sesuai dengan kontrak.

Menelisik lebih dalam agi, diketahui bersumber dari http://viva.co.id  pada driver hanya mendapatkan upah, komisi jika target tercapai, dan asuransi jika driver meengalami kecelakaan. Tidak ada tunjangan atau fasilitas lain yang mereka dapatkan. Kemudian ketika driver mengalami sakit atau musibah, pihak perusahaan ojek online tidak memberikan fasilitas tersebut. Driver menganggungnya. Driver juga tidak mendapatkan fasilitas kesehatan seperti BPJS atau bentuk yang lainnya untuk menjamin kesejahteraan drivernya.

Dulu dan sekarang juga mengalami perbedaan yang signifikan. Berbagai perubahan telah dilakukan yang disesuaikan dengan kondisi bisnis. Dulu banyak orang mau bergabung menjadi driver online karena tergiur dngan pendapatan yang besar, banyak orang keluar dari pekerjaan lamanya. Dulu, driver memiliki target yg belum tinggi dan hasil komisi yang besar. Penumpang juga lebih mudah didapatkan. Hasilnya tentu lebih besar. Dulu, orang-orang keluar dari pekerjaan lamanya dan mendaftarkan dirinya menjadi driver ojek online. Bahkan mahasiswa juga tertarik gabung. Lain dulu, lain sekarang.

Banyak perubahan kebijakan dan driver ojek online hanya pasrah menerimanya. Beberapa perubahan kebijakan adalah mulai dari peningkatan target harian untuk mendapatkan komisi dan turunnya besaran komisi yang diperoleh. Driver ojek online yang tergabung tidak memiliki kontrak yang jelas. Mereka setuju bergabung maka mereka akan dilatih secukupnya. Setelah driver berhasil di training, kemudian mereka bisa langsung bekerja. Bekerja untuk mencari penumpang. Selain itu, driver tidak memiliki power atau kekuatan untuk mendapatkan hak yang harus mereka dapatkan. Driver sangat tunduk pada perusahaan. Driver tidak bisa berbuat apa-apa jika mereka telah diputus hubungan oleh perusahaan. Karena tidak ada kontrak yang jelas yang membahasnya.

Saya pribadi justru tersentuh melihat perjuangan driver ojek online. Mereka seolah-olah harus bekerja rodi dari perusahaan ojek online. Memang driver sudah mendapatkan haknya sebagai driver. Perusahaan menamakan driver mereka dengan sebutan mitra. Mitra perusahaan. Saya juga melihat belum adanya kesinambungan antara perusahaan ojek online dengan mitra dalam membangun kesejahteraan mereka. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, driver hanya mendapatkan fasilitas asuransi jika kecelakaan, upah ojek, dan komisi jika tercapai. Pendapatan driver ojek online menjadi tidak menentu dan bergantung pada usaha driver itu sendiri. Kecuali, jika ada penumpang yang baik hati yang mau berbag rezeki dengan cara membayar uang lebih dari tarif yang telah dipatok.

Saya menyarankan bagi perusahaan ojek online untuk lebih memperhatikan keadaan driver ojek online. Driver ojek online adalah manusia. Manusia memiliki sifat dan watak yang kompleks. Mereka juga memiliki beban yang harus mereka tanggung. Sama seperti kebanyakan perusahaan yang berusaha untuk memenuhi kesejahteraan karyawannya, perusahaan ojek online juga harus demikian. Perusahaan ojek online bisa memberikan beberapa alternatif fasilitas berupa uang santunan jika driver ojek online terkena musibah, memberikan beasiswa pendidikan untuk anak dari driver ojek online. Hal ini bisa ditentukan dari driver terbaik setiap tahun atau semester menjalin hubungan harmonis antara perusahaan dengan driver ojek online berupa gahtering tiap chapter daerah untuk berdialog dan duduk bareng, membentuk komunitas driver ojek online bisa setiap daerah untuk memudahkan koordinasi dan komunikasi dan dibimbing langsung dari perusahaan, memberikan kontrak pekerjaan dengan semua driver ojek online untuk memudahkan hubungan mitra dan pemantauan yang lebih terbuka, dan perusahaan ojek online juga harus membuat kebijakan yang menguntungkan perusahaan dan juga menguntungkan driver ojek online. Tentu semua hal tersebut juga harus dibarengi dengan usaha terbaik semua driver ojek online untuk saling mendukung dan bekerja dengan baik. Terjalinnya hubungan yang harmonis dan terbuka, saya yakin bahwa perusahaan ojek online akan lebih memperhatikan driver ojek online, dan driver ojek online juga akan mengikuti kebijakan dan usaha terbaik untuk menjadi bagian dari sebuah ojek online.

@sukrisw
source: Google Image

Fenomena Driver Ojek Online di Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Sukur Riswanto